|
Ditulis oleh subang online
|
|
Kamis, 16 Juli 2009 11:40 |
Produk Lokal Bidik Pasar Internasional
Keberadaan home industry Chats Shoes di Jalan DI Pandjaitan No 68 Subang jauh dari kesan megah dan wah. Namun siapa sangka, home industry yang memanfaatkan sebuah rumah itu mendapat piagam penghargaan Presiden dan menjadi laboratorium penelitian usaha kecil menengah dari mancangera?
Krisis moneter yang menerpa Indonesia pada tahun 1998 lalu, juga berdampak pada Choirudin, 46. Suami dari Aneng Mulyati, 41, dan ayah dua putra ini “dirumahkan” dari perusahaan besar yang bergerak di bidang pembuatan alas kaki di Bandung. Choirudin pun kembali ke basic-nya, sebagai petani desa.
Memiliki skill dalam membuat alas kaki, tidak bisa lepas dari Choirudin. Pada tahun 2000, Choirudin akhirnya merintis untuk membuka usaha baru pembuatan sepatu di tanah kelahirannya di Kampung Tenjolaut, Desa Jalupang, Kecamatan Cipeunduey, Subang. Hasilnyapun cukup memuaskan, tidak sedikit kantor instansi atau pabrik dari luar kota memesan sepatu karyanya dalam jumlah partai besar.
“Pada tahun 2005, saya memutuskan untuk hijrah ke Kota. Karena selain saat di kampung hanya melayani pesanan saja, usaha di kota aksesnya akan lebih mudah, dan alhamdulillah ada peningkatan,” katanya.
Meskipun sudah berangsur besar, Choirudin tidak lantas melupakan Kampung Tenjolaut yang menjadi rintisan usahanya. Dia mengabadikannya dalam merk sepatu buatannya bersama nama dirinya, Choirudin Asli Tenjolaut, Subang atau disingkat Chats.
Dengan label Chats Shoes itu, usahanya terus berkembang, selain karena kualitasnya, harganyapun terjangkau oleh semua kalangan profesi, yaitu antara Rp75-135 ribu perpasangnya. Dengan system manual (rajutan tangan), sepatu yang dibuat dari bahan kulit berkualitas itu bisa dipesan model dan warnanya.
Dengan system pemasaran eceran dan pesanan, sepatu buatan Choirudin terjual 50 pasang perminggunya, di luar pesanan dari luar kota seperti, Jambi, Ambon, Papua, Bekasi, Karawang, Purwakarta dan daerah lainya. Untuk memenuhi permintaan konsumen, perharinya Choirudin memproduksi 10-15 pasang sepatu yang dikerjakan oleh belasan karyawannya.
Kualitas dan keberhasilan Choirudin dalam usaha sepatunya tidak hanya diakui oleh masyarakat lokal. Sehingga, selain sebagai lahan usaha, Chats Shoes kerap dijadikan sebagai laboratorium penelitian mahasiswa ekonomi di bidang usaha kelas menengah (UKM) yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi ternama.
Bukan hanya mahasiswa dalam negeri, Chats Shoes, beberapa kali dikunjungi utusan Kerajaan Selangor, Malaysia untuk melakukan penelitan dan training di tempat usahanya. Rencananya Jum’at (20/2) besok utusan Kerajaan Selangor kembali melakukan penelitian. “Semoga saja ini menjadi peluang untuk memasarkan sepatu saya di pasar Internasional, diawali dari Malaysia,” harapnya.
Prestasi itu membawa kebahagian bagi Chaerudin. Pada bulan Desember 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan piagam penghargaan Paramakarya. Hal yang sama juga dilakukan Gubernur Jabar pada peemerintahan Danny Setiawan, pada awal 2008 Pemerintahan Provinsi menyerahkan piagam Sidakarya. Jadi, tunggu apalagi, selain kualitasnya bagus dan harganya murah juga lokasinya mudah dijangkau. (*)
Trackback(0)
 |