| Desa Wisata Sari Bunihayu |
| Ditulis oleh subang online |
| Jumat, 03 Juli 2009 09:46 |
|
Menggapai Suasana Eksotis Khas Pedesaan Begitu Anda memasuki kawasan desa wisata ini, Anda akan disambut musik tradisional toleat yang menjadi musik khas Kabupaten Subang. Selain itu, akan ditemani pula dengan satu gelas bandrek minuman penghangat serta beberapa gorengan dan penganan khas Subang. Di lokasi ini, pengunjung bukan hanya disuguhi atraksi kesenian tradisional dan hanya bisa melihat warga desa tengah menggarap sawahnya maupun kebun serta memperbaiki selokan yang rusak. Para pengunjung juga ditawari untuk bergabung dengan warga desa atau petani untuk menggarap sawah, mulai dari nandur, ngawuluku, ngabuat (membajak sawah, menanam padi, menuai padi sampai panen). ![]() Selain tanaman padi, di objek wisata ini pun pengunjung bisa memetik buah-buahan segar langsung dari pohonnya. Pasalnya, di lokasi ini ditanami berbagai tanaman buah-buahan asli daerah Jawa Barat maupun buah-buahan asli dari daerah lainnya. Jika belum puas, Anda bisa merebus ubi, singkong atau membakar ikan dan jagung sendiri (self service), tergantung selera. Hal itu memang sengaja diberikan pengelola untuk kepuasan para pengunjung. Akses menuju desa wisata ini tak terlampau sulit. Dari Bandung, Anda bisa menggunakan kendaraan umum antarkota Bandung-Subang. Di sepanjang perjalanan Anda akan menikmati suasana pegunungan, mulai dari kawasan Lembang sampai pertigaan Gunung Tangkubanperahu. Setelah itu, suasana perkebunan teh nan hijau dengan udara sejuk akan menjadi pelengkap perjalanan Anda. Setelah menemukan Jalan Cagak, tinggal belok ke ke arah Subang yang dipenuhi dengan kebun nanas. Anda kemudian belok kiri setelah menemukan papan nama Desa Wisata Sari Bunihayu. Sementara dari arah Jakarta pun Anda cukup mengarahkan kendaraan melewati kota Subang lantas melewati jalur Subang – Bandung. Sebelum mencapai Jalan Cagak Anda akan menemukan papan nama Desa Wisata Sari Bunihayu di sebelah kanan jalan. Tidak kurang dari satu km, Anda akan bersua dengan kawasan pedesaan yang bernuansa asri. Kawasan yang dibangun di atas areal 2,5 ha pada 1982 ini terdiri dari sembilan bangunan penginapan, empat di antaranya merupakan bangunan tradisional yang dibuat dengan mempertahankan bentuk aslinya. Dinding terbuat dari anyaman kayu dan atap memakai jerami. Sementara, lantainya terbuat dari papan kayu. Nah, mengenai penginapan, Anda tidak perlu bingung lagi, karena pengelola telah menyiapkan sejumlah vila maupun bungalo dengan tarif bervariatif. Tunggu apa lagi, jika memang ingin bersua dengan hijaunya suasana pedesaan tak ada salahnya mengunjungi kawasan ini. (*)
Sebagian tulisan ini dikutip dari galamedia Hits: 600 Trackback(0)
Comments (4)
![]() written by Si Ali , July 15, 2009 Kuduna mah ditulis oge soal biaya yang harus dikeluarkan oleh wisatawan yg ingin berlibur di desa wisata inih. Write comment
|